Raja mereka telah dikebumikan, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Jika pada akhir pekan kebiasaan berlibur anda adalah berkumpul bersama keluarga dengan menonton Pesawat Televisi, maka minggu lalu mungkin akan berbeda buat anda. Karena jika kebiasaan nonton TV itu anda lakukan, mau tidak mau, suka tidak suka maka secara sadar atau tidak, anda akan digiring menjadi Simpatisan Soeharto.
Betapa tidak, gambar yang ada di hampir semua stasiun TV semuanya sama, menayangkan tentang mantan Presiden Soeharto. Mulai dari meninggalnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Minggu siang, hingga Senin keesokan harinya di Astana giri bagun. Mereka mengemas acara demi acara, angle demi angle, kemudian menyuguhkannya di layar kaca anda sedemikian rupa, cerita detail-demi detail, detik demi detik, seputar prosesi daripada meninggalnya Soeharto.
Terbaca dengan jelas suatu pesan bahwa yang intinya kira-kira “apa saja untuk Soeharto seorang”. Atau barangkali memang itulah tema yang dicanangkan dibalik layar oleh mereka untuk kita tangkap dan kalau bisa mbok yaaa… Semoga direnungken..!! Mulai dari inti ceritanya sendiri, adegan para tokoh yang sibuk atau memang jadi sibuk sendiri, diiringi komentar-komentarnya. Begitu pula kemasan tentang sambutan warga masyarakat yang juga berikut cuplikan komentarnya, yang semua komentar tentunya yang sangat baik-baik terhadap sang mendiang. Dapat dimaklumi karena namanya juga komentar buat orang meninggal, mana ada sih yang akan jelek, miring, apalagi menghujat?
Ada beberapa hal yang akan menyeret anda pada kemasan acara tersebut.
Pertama Jika anda pencinta Reality Show: Maka anda akan melihat dengan nyata kesedihan orang/tokoh yang dulu sangat berkuasa misalnya seperti melihat rintihan Mba’ Tutut yang memohon maaf atas kesalahan bapaknya (tapi selagi mampu berfikir beberapa hari sebelumnya, mantan jenderal besar, sempat atau mau ngga yaaa? dengan ikhlas dan sukarela, melakukan permohonan maaf bagi rakyat Indonesia !!??). Reality show kemudian dilanjut dengan kedatangan Mayang Sari bersama suaminya Bambang Tri sambil menggendong buah hati mereka bersimpuh di depan jenazah di Cendana.
Kedua Jika anda politisi; Maka anda dapat amati dengan insting anda bagaimana sosok pendirian sesungguhnya dari kolega maupun lawan politik anda, melalui cara-cara mereka menyikapi kejadian itu.
Ketiga Jika anda pencinta seni budaya dan peradaban lokal; Maka anda akan memperoleh tambahan pengetahuan dengan melihat bagaimana sesungguhnya seorang Raja dikebumikan di tanah Jawa. “Ini sih sih acaranya Raja Mataram jika mangkat” demikian kurang lebih spontanitas Emha Ainun Najib berkomentar ketika berbincang bersama Rosiana Silalahi di salah satu Stasiun TV swasta. Bahkan anda dapat pula memperoleh babak bonus dalam menambah wawasan pada acara kenegaraan untuk kondisi super Spesial.
Keempat; Jika anda tak tergolong ketiga klasifikasi diatas, semestinya waktu itu anda mematikan TV untuk kemudian keluar dari rumah dan menikmatilah weekend anda, sambil melihat calon-calon pemimpin masa depan kita berlari-larian di Mall atau di taman-taman.
Pengkultusan Kembali
Hampir semua stasiun Televisi meliput detik demi detik kematian Mantan presiden Soeharto mulai dari khabar meninggalnya dari pengumuman team Dokter RSPP, perpindahan jenazah dari rumah sakit menuju kediaman jalan Cendana sebagai tempat disemayamkan, hingga besok paginya secara detail. Mulai dari upacara pemberangkatan dari Cendana, kemudian konvoi perlahan melalui jalan protokol ibukota menuju Lanud Halim Perdanakusumah.
Gambar berikutnya adalah satu demi satu pesawat pengantar keluarga Cendana bergerak, hingga terakhir gerakan perlahan Herkules menuju run way hingga take off. Nun disisi sana, di Astana giri bangun persiapan penyambutan dan pemakamannya telah pula disiapkan. Aparat Negara/muspika/muspida pun telah mempersiapkan dengan secermat-cermatnya mulai dari acara penyambutan jenazah dari bandara Adi Soemarmo, mengatur rute perjalanan hingga ke Astana Giri bangun serta persiapan untuk pernak pernik acara pemakaman. Semuanya dipersiapkan dengan cermat, akurat dan matang serta terbalut kemasan dukacita yang Akbar.
Apakah makna dibalik semua cerita diatas:
Rangkaian acara sedemiakian rupa dengan biaya yang mahal serta dukungan habis-habisan dari para tokoh dan elit tekemuka, baik yang sudah tak berkuasa lagi hingga yang masih berkuasa diatraksikan di depan hidung kita.
Ada dua hal yang yang menjadikan acara tersebut lancar, yakni faktor Biaya dan Dukungan.
Biaya; meski acaranya sedemikian megah, biaya tentunya bukanlah sesuatu hal yang berarti bagi keluarga Cendana. Hal yang lebih penting untuk dicermati adalah; berlimpahnya ruahnya dukungan (supporting) dari para Tokoh / Elit Negara kita yang bukan sebatas melancarkan terselenggara nya acara tersebut secara kenegaraan. Lebih dari itu mereka bahkan ikut pula menyetor andil mempengaruhi opini publik untuk kemudian dengan sadar memitoskan kembali mendiang Presiden Soeharto.
Dukungan besar-besaran itu membuktikan banyaknya orang di Republik ini khususnya elit politik kita yang masih sangat nyaman dengan cara-cara berkuasa seperti ketika Soeharto berkuasa. Muda-mudahan dukungan berkelimpahan itu bukanlah suatu rangkaian disain yang ingin mengidupkan kembali gaya dan cara-cara lama (CCL). CCL yang dimulai dari pakem bergaul, bermayarakat, pakem berkuasa dan bernegara seperti atmosfir buram dijaman mendiang Presiden Soeharto yang telah berlalu.
Simbolisasi terhadap sosok seseorang yang dikelola secara terus-menerus akan membentuk suatu idealisasi dari personifikasi sosok seseorang (tokoh tersebut). Kemudian jika idealisasi telah tersosialisasi secara simultan dengan merata ditengah masyarakat, maka lambat laun akan muncul pula pola kebiasaan-kebiasaan (habit) pada tataran masyarakat tersebut. Kebiasaan yang sudah disenangi dan disepakati secara informal oleh khalayak luas tentulah seiring dengan waktu dia akan menjadi budaya. Jika budaya itu telah mengakar dan nyaman untuk dipakai secara bersama-sama, bukankah dia telah menjelma menjadi sebuah apa yang dinamakan Ideologi? Barangkali inilah yang di awal Reformasi kemaren sering kita dengar dengan sebutan SOEHARTOISME
Tammat