Setahu saya belum ada orang Indonesia yang suka meneguk Bensin atau Hobby minum solar sambil makan bakso. Laiknya manusia normal seperti yang hidup dibelahan dunia lainnya, Masyarakat kita sampai hari ini masih WARAS. Artinya pola konsumsi orang Indonesia terhadap BBM masih dipergunakan untuk Kenderaan bermotor dan Industri. Perut bumi Nusantara dalam gugus kepulauan yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah salah satu Negara penghasil Minyak dalam jumlah besar di Dunia. Namun kekayaan alam pemberian Tuhan itu alih-alih bisa di atur oleh Negara dengan baik untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran Rakyat. Eh, yang tejadi malah sebaliknya, yakni Negara sudah tidak mampu lagi menahan harganya (BBM) untuk tetap dinikmati dengan daya beli para Manusia penghuninya. Hingga sudah tiba lagi saatnya harga harus dinaikkan oleh yang berkuasa saat ini. Parameretnyapun aneh bin ajaib, disamakan pula dengan harga beli rakyat dari negara yang tak punya sumber daya alam sama sekala. Hahaay..!!! Singapura. . Kenapa…????
Rupa-rupanya, terlepas dari harga Minyak dunia yang terus meroket, hitung punya hitung ternyata Konsumsi BBM Masyarakat kita sudah jauh diatas Produksi BBM oleh Negara. Akhirnya harus disubsidi melalui anggaran Negara, dan itu sudah lama berlangsung karena katanya disebabkan pola konsumsi masyarakat kita. Apakah masyarakat kita salah atau terlalu berlebihan mengkonsumsi BBM..???. Setahu saya belum ada orang Indonesia yang suka meneguk Bensin atau Hobby minum solar sambil makan bakso. Laiknya manusia normal yang hidup dibelahan dunia lainnya, Masyarakat kita sampai hari ini masih WARAS. Artinya pola konsumsi orang Indonesia terhadap BBM alias masih dipergunakan untuk Industri dan Kenderaan bermotor. kecuali kita olang sedikit selundup-selundup atau oplos-oplos lahh…. Selundup-selundup karna kurang pengawasan, Oplos-oplos karna mungkin bakat alam atau Hobby nyampul-nyampul lahh….
Kembali kepada Pola Konsumsi Masyarakat terhadap BBM
Apa ya iya..!!?? Misalnya, Si Badu beli Motor yang harga minimalnya Rp.12Juta kemudian jungkir balik, banting tulang melunasi kreditnya selama 3 tahun dengan suka rela atas kemauan sendiri?
Bukankah Si Badu saban hari memacu motor kreditannya dari ujung Bekasi atau Tangerang sana menuju Jakarta yang hebat ini, karena tak punya pilihan lain yang lebih efisien? Jika ada pilihan lain seperti angkutan massal (mass transport) yang murah dan nyaman, apakah Badu akan tetap nekat ngebut sambil boncengan dengan bininya dijalanan tiap hari menuju kantor demi susu anak mereka???
Bukankah si Alex anak orang lumayan cukup itu, dengan suka rela mengorbankan uang saku (jajan) dari emaknya buat beli bensin mobil butut kesayangannya menuju kampusnya di tengah kota karena tak ada angkutan yang nyaman?
Untuk Apa orang menyeludupkan BBM jika harus berhadapan dengan resiko Penjara jika Penegakan Hukumnya baik?
Buat Apa orang oplos-oplos kalau harga masih terjangkau?
Untuk apa orang gede-gedein tangki truk untuk manfaatkan disparitas harga SPBU dan Industri jika diawasi dengan ketat? Untuk apa pemilik pabrik mau bersusah payah penuh resiko jika energi untuk Industri dijamin dan diatur dengan baik?
Bukankan seharusnya Pemerintah harus mesara berhutang kepada Masyarakatnya karena mereka (Rakyat tsb), telah mencari solusi sendiri tentang kehidupnya di atas kekuasaan Pemerintah yang tak berdaya namun amsih sempat aja petantang-petenteng.
Sikap Pemerintah
Kini Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN pun dianggap sudah tak lagi mampu memikul subsidi BBM yang diberikan oleh Negara kepada Warganya selama ini. Berbagai Demonstrasipu merebak dari pihak Masyarakat menentang rencana kenaikan ini. Debat kusir tentang Pola Konsumsi BBM Masyarakatpun dimulai…. Jreeeng…!!!!!
Rencana Perintah yang disambut dengan berbagai demo oleh masyarakat kemudian dikomentari oleh Wapres JK dengan Statemen: Demo Tolak BBM Naik Itu Membantu Orang Kaya. Tak mau ketinggalan, pihak Pertamina juga ikut-ikutan menggelar SPANDUK di beberapa SPBU yang dinilai oleh masyarakat sebagai bahasa Provokatif yang dalam beritanya detik.com memasang judul untuk ini dengan; Orang Kaya Komplain Spanduk BBM.
Solusi Pemerintah tentang Dampak Rencana Kenaikan harga BBM
Untuk menyelamatkan Anggaran Negara yang akan soak karena akan ditelan oleh subsidi BBM, maka Pemerintahan ini pun telah menyiapkan berbagai upaya. Dan rencana upaya yang kita dengar sampai hari ini adalah:
Penyelamatan beban APBN dengan mencabut Subsidi BBM (Baca: Menaikkan harga BBM): Dengan menaikkan harga BBM tentu akan memicu kenaikan hampir semua harga-harga. Untuk menaggulangi beban yang akan mendera penderitaan warga Negara dilapisan ekonomi melarat, maka merekapun akan membagi-bagi Uang kepada jutaan orang selama kurang lebih 6 bulan yang disebut dengan istilah BLT.
BLT (Bantuan Langsung Tunai bageeetssss):
Konon konpensasi oleh Negara akan diluncurkan buat Masyarakat melarat dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diperoleh dari alokasi subsidi BBM pada APBN. Hal yang sudah pernah dilakukan Pemerintahan ini saat kali ke-2(dua) menaikkan harga BBM di awal-awal pemerintahannya 2 tahun silam.
Kebijakan lain yang lebih Cerdas? Baru satu yang terdengar… antara lain:Ya, yang diatas tadi itu..!! Saya copy-paste lagi; SPANDUK di beberapa SPBU yang dinilai oleh masyarakat sebagai bahasa Provokatif yang dalam beritanya detik.com memasang judul untuk ini dengan; Orang Kaya Komplain Spanduk BBM.
Mengharapakan Pemerintahan ini sedikit cerdas dan kreatif menyiapkan penanggulangan dampak dari kenaikan harga ini layaknya jauh penggorengan dari kompor (modernisasi dati peribahasa lama..) Misalnya, (Wah wah.. untuk Pertama kalinya kite sok bikin Solusi di tulisan):
Pola Konsumsi: Pemerintah bisa saja menetapkan dengan Peraturannya yang kuasa itu untuk mengatur Pola Konsumsi Masyarakat terhadap pemakaian BBM. Katakanlah misalnya Pemerintahan ini menaikan atau melepas subsidi Bensin saja, umpamanyaa.. Sedangkan Solar untuk angkutan umum seperti Bus Kota tetap di subsidi. Mengenai Mikrolet yang memakai Bensin ??? Pikirin sendiri aja sonooo, siapa suruh jadi pejabat. Kreatif dikit maaang…..!!!!!
Untuk Disparitas harga antara Solar Angkutan umum dan Mobil Pribadi ini, rasanya tak akan ada mobil-mobil pribadi itu ngebela-belain bawa jrigen kemudian bisik-bisik ke pool Metromini atau Mayasari yang katakanlah akan ngeGendut-gendutin Tangki Bus nya.
Disparitas Solar dan Bensin untuk angkutan Umum dan Mobil Pribadi dulu laaah… (Beranikah..?? Bersama kalian Bisa!!!)
Agar pihak Pertamina tidak larut dengan usaha antisipasi amatiran dengan tukang sablon membuat spanduk di SPBU tentang BBM yang dinikmati orang kaya. Tapi omong-omong di Republik ini orang kaya emang bukan Rakyat juga apa ya?? (Meskipun saya masih tergolong warga Negara BKO alias Barisan Kurang Ongkos, saya tidak suka dikotomi kaya-miskin ini). Kerjaan siapa sih inii..?? ngga punya provok lain apa yaaa…!!!
Catatan: Mengenai Pola konsumsi ini sebenarnya sudah pernah diatur oleh Pemerintah dan tengah berjalan hingga kini. Mereka telah menetapkan disparitas harga SOLAR (yang juga masih Subsidi) untuk Industri dan Kenderaan pribadi termasuk Phanter-mu itu loh kawaan..!!??? dan …Untuk diperhatiken..: Berapa prakiraan penghematan tentang hal ini harus ad Data dari angka Pemakaian BBM yang valid. Kemudian jika penghematannya si’nifikan, dijelaskan kepada publik dengan terbuka dengan angka yang valid eh sorry.., angka yang Jujur.!! Biasakan atuh transparaaan kalo ngga, ntar disebut penipu kan ngga enak ndengarnyaa.
Disparitas harga: Akibat dari kebijakan Disparitas harga BBM, tentunya akan menimbulkan masalah tersendiri. Bigaimana tidak, karena sudah barang tentu akan memicu nafsu para Bandit spekulan dan penyeludup BBM yang butuh pengawasan ketat oleh Negara. Apakah ini sudah diantisipasi ataukah sudah terjadi ? Tonton saja di TV Beriata Buser, Patroli dan berita kriminal sejenis. Kemudian lagi-lagi demi penyelamatan anggaran Negara yang hari ini sudah bikin rebut, seberapa besar anggaran yang berhasil diselamatkan jika telah terjadi tapi sudah ditangani secara benar? Tanya rumput yang bergoyang..
Energi alternatif (alternative Mix Energi): Caaangkul… caaangkul… cangkul yang dalaaamm…, menanam Jarak di kebuun kitaaaa. (hahaa.. untuk BioDiesel??). Bio diesel juga bisa didapat dari sawit yang sudah ditanam di hampir seluruh daratan Sumatera (ssst omong-omong apa masih kita yang punya kebunnya yaaa???). Bagaimana pula untuk Ethanol dari Singkong, Jagung dll. Kok jadi saya yang mikir nih..!!! (digaji siapa ni gue..??)
Lagi lagi.., Kreatif Maaaangg…!!!!!!
Kembali Tentang BLT
Saya sungguh tidak mengerti apa hitung-hitungan pemerintah tentang BLT akibat kenaikan BBM ini. Karena yang ada di benak saya pasca kenaikan harga BBM, yang sudah jelas adalah semuanya kita akan serasa kecopetan dompet setiap malam sampe di rumah. Kemudian perhatikan urut kacang diberikut ini; Untuk Masyarakat Kaya, cerita diatas cuma kisah telenovela tak mutu alias tidak akan berpengaruh buat mereka. Masyarakat yang ada pada taraf Cukup, akan menjadi Susah dibuatnya, yang Susah akan jadi Miskin, Yang Miskin akan menjadi Melarat. Jika yang di cover oleh BLT ini adalah saudara-saudara kita yang Melarat, bukankah tindakan itu juga sekali gus merupakan keputusan yang akan menambah jumlah orang Melarat?
Sementara jumlah nominal Uang (Rp) BLT yang diterima si Melarat, agaknya tak akan mampu mengangkatnya naik menjadi Pra-Sejahtera (pake Istilah lama dulu aaahh…. kali-kali bole dooonk). Sungguh sulit sekali mencerna Logika. AMPIUUUUNN……
Rangkaian logika di atas adalah bahasan tentang Minyak (BBM) seputar PomBensin ke hilir.
Bersambung …
Judul berikutnya:
.
.
Kisah dari Perut Bumi ke PomBensin
(Data masih di search… heheheheee)
